Kamis, 10 Mei 2018





PENYEBAB TERJADINYA KONFLIK ANTAR MAHASISWA



  

OLEH
KELOMPOK

DEVI SASMITA
VIDYA SARI NUR FAIDAH
PPKn C 015


FAKULTAS KEGURUAN dan ILMU PENDIDKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2018

A.      Latar Belakang
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.
Walgito (2010) mengemukakan pada dasarnya konflik merupakan situasi dimana dua orang atau lebih atau kelompok tidak setuju terhadap hal-hal yang berkaitan dengan keadaan atau aktivitas yang tidak memiliki kecocokan. Ada berbagai macam bentuk konflik, diantaranya yaitu konflik intrapersonal (konflik dengan diri sendiri), konflik interpersonal (konflik antar pribadi), konflik antar anggota kelompok, konflik antara kelompok dengan kelompok, konflik antar organisasi serta konflik antar negara (Wirawan, 2010).
Kampus merupakan salah satu sarana pendidikan yang membantu mewujudkan gene rasi muda berprestasi dan unggul dalam bidang tertentu. Kata “maha” dalam kamus Bahasa Indonesia yang berarti besar menandakan bahwa seorang mahasiswa memiliki tanggung jawab dan perananan yang besar pula. Gandhi (1999) memaparkan bahwa tugas seorang mahasiswa adalah membantu menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat. Berdasarkan penelitian Komariah (2003) ada dua kelompok mahasiswa, kelompok pertama adalah mahasiswa yang berorientasi pada karir dan diri sendiri atau disebut mahasiswa biasa dan kelompok kedua adalah mahasiswa yang mementingkan nilai serta ide universal atau orientasi keluar dari diri mereka sendiri, kelompok ini disebut aktivis.
Fenomena yang terjadi di dalam kampus erat kaitannya dengan mahasiswa. Fenomena yang terjadi akhir–akhir ini sangatlah memprihatinkan, karena kecenderungan merosotnya moral bangsa hampir terasa di semua strata kehidupan. Krisis moral ini kemudian diikuti dengan menyuburnya pola hidup konsumtif, materialistis, hedonis, dan lain sebagainya yang semuanya menyebabkan tersingkirnya rasa kemanusiaan, kebersamaan, dan kesetiakawanan sosial.
Sedangkan untuk kalangan perguruan tinggi, tawuran mahasiswa juga masih terjadi dimana mana. Khususnya di Makassar, tawuran pelajar seakan menjadi rutinitas. Bahkan Makassar terkenal dengan istilah “kota tawuran”. Pasalnya hampir setiap tahunnya terjadi tawuran antar mahasiswa baik lain perguruan tinggi, maupun satu perguruan tinggi tapi beda fakultas dan beda jurusan. Sungguh fakta yang mencerminkan masih buram dan rapuhnya pendidikan di negeri ini.
B.       Langkah-Langkah Pembelajaran

1.      Mengamati
  Pengamatan yang kami lakukan tempatnya di kampus Unismuh Makassar
2.    Menanya
            Melakukan wawancara kepada beberapa mahasiswi tentang penyebab terjadinya konflik antar mahasiswa. Berikut pertanyaannya : menurut anda apa yang menyebabkan sering terjadinya konflik antar mahasiswa?
3.    Mengumpulkan Data
Jenis pengumpulan data yang kami lakukan, yaitu :
a.       Wawancara
1)   Informan pertama:
Menurut informan pertama penyebab terjadinya konflik antar mahasiswa yaitu mahasiswa aktivis yang sering berinteraksi dengan berbagai macam orang lebih mudah mengalami sebuah konflik dibandingkan dengan mahasiswa biasa. Misalnya konflik dengan teman di organisasi berupa salah paham atau miss komunikasi.
2)      Informan kedua:
Menurut informan kedua penyebab terjadinya konflik yaitu: jawabannya hampir sama dengan informan pertaman namun dia lebih menjelaskan tentang konflik dengan teman di luar organisasi masalah terpicunya itu berupa perbedaan pendapat, adanya perbedaan ideologi, serta pencitraan negatif terhadap mahasiswa aktivis.
3)        Informan ketiga:
Menurut informan ketiga penyebab terjadinya konflik yaitu: terjadinya mis komunikasi yag menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat dan kesalahahaman antara satu pihak dan yang lainnya sehingga menyakiti ego mereka dan tersinggung dengan pihak lain.
C.     Analisii Data
Hasil dari analisis peneliti penyebab terjadinya konflik yaitu mahasiswa aktivis yang sering berinteraksi dengan berbagai macam orang lebih mudah mengalami sebuah konflik dibandingkan dengan mahasiswa biasa. Seperti dalam perbedaan pendapat karena mis komunikasi yang menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat, perbedaan ideologi, serta pencitraan negatif terhadap mahasiswa aktivis.

Sabtu, 05 Mei 2018


PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA TENTANG PERAYAAN HARI VALENTINE




OLEH
KELOMPOK

DEVI SASMITA
VIDYA SARI NUR FAIDAH
PPKn C 015


FAKULTAS KEGURUAN dan ILMU PENDIDKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2018

A.      Latar Belakang
Perubahan sosial menurut Selo Soemardjan (1982) adalah perubahan perubahan pada lembagalembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat,yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap,dan pola perilaku di antara kelompokkelompok dalam masyarakat. Tekanan padadefinisi tersebut terletak pada lembaga-lembaga kemasyarakatan sebagai himpunan pokok manusia, perubahan-perubahan mana kemudian mempengaruhi segi-segi struktur masyarakat lainnya.
Sedangkan menurut Kingsley Davis (1960) perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi dalam struktur dan funsi masyarakat. Perubahan kebudayaan dalam masyarakat merupakan gejala perubahan pola hidup, kebiasaan dan struktur sosial dalam masyarakat yang disebabkan oleh beberapa faktor. Perubahan kebudayaan ini merupakan hal alami yang terjadi di masyarakat dikarenakan sifat alami manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan, salah satunya adalah perubahan sosial pada kalangan anak muda Indonesia yang mulai menganut sosial budaya asing yaitu merayakan Hari Valentine atau hari kasih sayang yang masuk dari budayaEropa. Negara Indonesia mempunyai normanorma yang harus dipatuhi oleh masyarakatnya, norma tersebut meliputi norma agama, norma hukum, norma sosial, norma kesopanan. Setiap butir norma memiliki peranan masing-masingdalam mengatur hidup manusia. Norma merupakan suatu ketetapan yangditetapkan oleh manusia dan wajib dipatuhi oleh masyarakat dan memilikimanfaat positif bagi kelangsungan hidup khalayak. Setiap peraturan yang telahditetapkan pasti ada sanksi bagi yang melanggar, hal itu serupa dengan norma,apapun jenis norma ada di Indonesia, pasti ada sanksi bagi yang melanggarnya.Kenyataan yang terjadi saat ini banyak anak muda yang melakukan penyimpangan-penyimpangan yang sudah tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku di Indonesia.
Anak muda di Indonesia tidak menghiraukan lagi norma-norma yangada, salah satu penyebabnya adalah kemudahan mengakses budaya asing serta kemudahan masuknya budaya asing tanpa ada filterisasi membuat usia mudarawan tergoda dengan hal-hal yang bisa membahayakan dirinya, sikap yang belum dewasa membuat mereka tidak dapat membedakan yang baik dengan yang buruk, seperti masuknya budaya merayakan hari kasih sayang (Valentine’s Day )yang tidak bisa diterima dengan baik oleh kalangan anak muda di Indonesia,sebagian dari mereka tidak hanya menganggap hari tersebut sebagai hari kasihsayang namun berkembang menjadi hal-hal yang tidak pantas dilakukan oleh usiaremaja seperti melakukan hubungan suami istri, hal ini juga didukung oleh banyaknya situs situs porno yang masuk ke Indonesia, permasalahan ini sangat berdampak negatif bagi masyarakat khususnya kalangan anak muda.
B.       Langkah-Langkah Pembelajaran
1.      Mengamati
Pengamatan yang kami lakukan tempatnya di kampus Unismuh Makassar
2.    Menanya
Melakukan wawancara kepada beberapa mahasiswi tentang perayaan hari valentine di indonesia. Berikut pertanyaannya : bagaimana menurut anda tentang perayaan hari valentine di indonesia menurut perspektif islam?
3.    Mengumpulkan Data
Jenis pengumpulan data yang kami lakukan, yaitu :
a.    Wawancara
1)   Informan pertama atas nama uci ashari: mengatakan hari valentine merupakan sebuah tradisi bangsa Barat dimana pada hari itu, merupakan simbol hari kasih sayang dengan pertukaran hadiah,  umumnya yaitu coklat dan bunga. Di dalam Islam tentu tidak ada karena Islam sudah mamiliki hari kasih sayang sendiri yaitu Idul Adha dan Idul Fitri dimana kita sesama Muslim saling maaf memaafkan, kita sebagai umat Muslim tentu tidak boleh mengikutinya karena apabila kita mengikutinya itu sama seperti halnya perayaan Natal, yang merupakan hari spesial dalam agama Kristen. Apabila kita mengikuti mereka, itu  berarti kita termasuk sebagian dari kelompok mereka, adapun mungkin mereka yang ikut-ikutan itu karena kebanyakan belum tahu asal dan usulnya dan hubungannya dengan Islam itu sendiri. Untuk itu kitalah yang harus mengayomi adik-adik kita agar tahu dan tidak mengikuti mereka. Adapun cara untuk meminimalisir para remaja umumnya yaitu melalui media cetak dengan artilkel pembahasan tentang hari valentine, melalui percakapan keseharian kita pada adik-adik kita tentang hukum dan asal-usul  serta hubungannya dalam agama Islam.
2)   Informan kedua mahasiswi atas nama Afra Taufiqah, mengatakan hari valentine dalam Islam itu sendiri tidak ada, karena itu merupakan budaya Barat dan kita berbudaya Timur. Jadi untuk apa kita ikut-ikutan budaya meraka, dan jelas pula di dalam hadits “Man Tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum”, barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian darinya. Cinta dan kasih sayang umat Islam itu tidak hanya satu hari tapi setiap hari dan setiap waktu seperti halnya silaturahmi. Adapun untuk maminimalisirnya yaitu harus adanya kesadaran dari diri sendiri dan mulai dari sekarang, kita harus mengetahui dan mencari tahu asal-usul  serta sejarahnya dan apa hubungannya dalam agama islam.
3)   Informan ketiga atas nama lilis mengatakan hari Valentine itu awalnya diadakan pada zaman dahulu dikisahkan dari seorang pendeta yang mencintai perempuan akan tetapi hubungan keduanya dilarang. Akhirnya pendeta itu pun bunuh diri, dari peristiwa itulah adanya hari Valentine karena untuk mempersatukan cinta keduanya. Adanya peringatan tersebut sama halnya dengan apa yang ada di daerah Bengkulu, tepatnya tanggal 10 Muharam diperingatinya kematian dari cucu dari Rasul. Karena diingat itulah maka ada kesamaan seperti halnya Valentine itu sendiri. Didalam Islam jelas tidak ada karena hari Valentine asalnya dari bangsa Yahudi. Dalam Islam hari kasih sayang tidak ditunjukkan pada satu hari saja akan tetapi setiap hari, untuk meminimalisir maraknya remaja yang ikut meramaikan hari Valentine yaitu dengan lebih diperdalamkannya pendidikan keagamaan karena agama merupakan pondasinya. Pengaruh dari luar dan dalam pun perlu diperhatikan secara selektifdan intensif  agar budaya asing tidak masuk sembarangan.
b.      Dokumentasi




c.       Analisis data
 Islam agama yang konsisten tidak ikut-ikutan, meniru-niru keyakinan dan gaya hidup Barat bukan bagian dari ajaran Islam, meskipun berkedok kebaikan dan kasih sayang, karena Islam telah mengatur cara-cara untuk menanam kebaikan dan menyediakan fasilitasnya (wasilah). Rasul Saw. bersabda : Siapa-siapa yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapat suatu kebaikan, Allah berikan kepadanya kepahaman tentang agama Islam. (Al-Hadis). Ajaran kasih sayang yang diikuti lewat memperingati Valentine Day bukanlah ajaran Islam, Rasul Saw. melarang untuk meniru-niru cara agama lain : Siapa-siapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) dia termasuk kaum (agama) itu.

Sabtu, 28 April 2018

SIKAP ETNOSENTISME TENTANG SISTEM BUDAYA DI INDONESIA





OLEH  :
KELOMPOK 
DEVI SASMITA
VIDYA SARI NF
PPKn C 015
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2018



A. Latar Belakang 

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni., sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Etnosentrisme cenderung memandang rendah orang-orang yang dianggap asing, etnosentrisme memandang dan mengukur budaya asing dengan budayanya sendiri.
Ada satu suku Eskimo yang menyebut diri mereka suku Inuit yang berarti “penduduk sejati” [Herbert, 1973, hal.2]. Sumner menyebutkan pandangan ini sebagai etnosentrisme, yang secara formal didefinisikan sebagai “pandangan bahwa kelompoknya sendiri” adalah pusat segalanya dan semua kelompok lain dibandingkan dan dinilai sesuai dengan standar kelompok tadi [Sumner, 1906, hal.13]. Secara kurang formal etnosentrisme adalah kebiasaan setiap kelompok untuk menganggap kebudayaan kelompoknya sebagai kebudayaan yang paling baik.
Etnosentrisme terjadi jika masing-masing budaya bersikukuh dengan identitasnya, menolak bercampur dengan kebudayaan lain. Porter dan Samovar mendefinisikan etnosentrisme seraya menuturkan, “Sumber utama perbedaan budaya dalam sikap adalah etnosentrisme, yaitu kecenderungan memandang orang lain secara tidak sadar dengan menggunakan kelompok kita sendiri dan kebiasaan kita sendiri sebagai kriteria untuk penilaian. Makin besar kesamaan kita dengan mereka, makin dekat mereka dengan kita; makin besar ketidaksamaan, makin jauh mereka dari kita. Kita cenderung melihat kelompok kita, negeri kita, budaya kita sendiri, sebagai yang paling baik, sebagai yang paling bermoral.”


Etnosentrisme membuat kebudayaan kita sebagai patokan untuk mengukur baik-buruknya kebudayaan lain dalam proporsi kemiripannya dengan budaya kita. Ini dinyatakaan dalam ungkapan : “orang-orang terpilih”, “progresif”, “ras yang unggul”, dan sebagainya. Biasanya kita cepat mengenali sifat etnosentris pada orang lain dan lambat mengenalinya pada diri sendiri. Etnosentrisme mungkin memiliki daya tarik karena faham tersebut mengukuhkan kembali “keanggotaan” seseorang dalam kelompok sambil memberikan penjelasan sederhana yang cukup menyenangkan tentang gejala sosial yang pelik. 

B. Langkah-langkah Pembelajaran
1.      Mengamati
Pengamatan yang kami lakukan tempatnya dikalangan masyarakat. Lingkungan kampus biru, di rumah dan di kost narasumber.
2.      Menanya
Melakukan wawancara dengan beberapa masyarakat, baik mahasiswa(i) atau para pekerja. Berikut pertanyaannya :
a.       Bagaimana tanggapan anda, tentang orang yang beranggapan bahwa budaya atau sukunyalah yang terbaik diantara budaya atau suku lainnya ?
b.      Untuk mencegah terjadinya perpecahan antar masyarakat akibat  etnosentrisme, menurut anda,  apa yang sebaiknya kita lakukan ?
3.      Mengumpulkan Data
Jenis pengumpulan data yang kami lakukan yaitu :
a.       Wawancara
1)      Narasumber : atas nama Uci Ashari. Menurut mahasiswi jurusan PPKn ini tidak ada salahnya bila seseorang menganggap bahwasannya sukunyalah yang terbaik dan memiliki budaya yang paling unik. Karena orang-orang cennderung memberikan nilai baik bila menyangkut hal-hal pribadi. Mahasiswi dari kabupaten Bone ini, tidak menyangkal bahwa diapun pernah memiliki pandangan seperti itu. Bila terjadi perpecahan akibat hal ini, menurutnya lain lagi ceritanya. Tidak ada alasan yang membenarkan terjadinya perpecahan akibat hal-hal sepele. Walaupun kita berbeda-beda tapi kita satu. Perbedaan inilah yang membuat kita unik. Kita bisa menghindari atau mencehag terjadinya perpecahan dengan saling bertoleransi.
2)      Narasumber : atas nama MUH. Shaffaat. Menurut mahasiswa UNM  ini  setiap orang memilki hak dan keistimewaan masing-masing. Begitupun dengan pandangan terhadap suku dan budayanya. Hal ini tidak salah selagi tidak menjatuhkan suku dan budaya dari daerah lainnya. Menurutnya apabila terjadi perpecahan akibat pandangan seperti ini, maka kita hanya akan saling meyakiti sesama saudara, karena kita adalah bangsa Indonesia yang memanag di dalamnya terdapat begitu banyak suku dan bangsa. Kita harus menyelesaiakan masalah dengan cara kekeluargaan dan harus memahami bahwa setiap suku memilki keunikan masing-masing.
3)      Narasumber : atas nama Nur Islami. Tidak setiap orang akan beranggapan bahwa suku dan budayanya yang terbaik, menurut pegawai ibnu sina ini masih banyak masyarakat yang menilai bahwa suku dan budaya miliki orang lain lebih baik. Namun, mereka tetap berbangga dan bersyukur atas keunikan apa yang dimilki disukunya. Kita hanya perlu mengambil sikap yang bijak dengan perbedaan-perbedaan yang kita temui di luar sana. Mereka yang beranggapan bahwa sukunyalah yang paling baik itu tidak salah dan juga tidak benar, karena pada hakikatnya manusia memang seperti itu, memilki sifaat yang naïf dan sombong, maka dari itu kita harus pintar-pintar bersikap agar tak terjadi perpecahan akibat hal ini. Adapun bila terjadi perpecahan, akan sangat sulit untuk menyatukan kita kembali karena ego yang dimiliki. Kita sebaiknya saling memaafkan untuk menyatukan atau memperbaiki kesalahan.
4)      Narasumber : atas nama MUH. Taufik. Menurut mahasiswa UIN ini ada baik dan buruknya bila seseorang beranggapan bahwa suku dan budayanyalah yang terbaik. Buruknya ialah, secara tidak langsung dia telah merendahkan suku dan budaya milik orang lain. Baiknya bahwa dia merasa bangga dengan suku dan budayanya, hal ini membuat rasa percaya dirinya terjaga dari pengaruh-pengaruh budaya luar. Namun, apabila terjadi perpecahan, kita harus menyelesaikannnya dengan cepat agar tak terjadi kekacauan lebih jauh. Seharusnya kita saling menghargai sesama manusia, adapun latar belakang kita yang berbeda itu hanyalah background semata tapi tujuan dan status kita sebagai masyarakat sama dimata negara. Pun pemerintah tak dapat menyatukan kita kembali apabila kita menolak disatukan atau meyatukan diri hanya karena menganggap bahwa suku dan budaya kitalah yang terbaik.
5)      Narasumber : atas nama Mardiana. Menurutnya, lucu ketika ada seseorang yang dengan bangganya mengatakan suku dan budanyalah yang terbaik. Dia merasa tidak sepantasnya, seseorang beranggapan seperti itu, hal ini sama dengan membodohi diri sendiri, dia mencoba membohongi dirinya. Karena pasti, diam-diam dia mengakui bahwa budaya si A lebih baik dibidang B, namun dia tak ingin mengakui itu dengan berbagai alasan. Perpecahan akibat merasa paling baik dari segi suku dan budaya memang tak dapat kita hindari. Karena, bila kita berada di daerah si B, kemudian kita menemukan perbedaan sikap seseorang dengan yang ada di daerah kita tanpa tahu artinya kita pasti akan tersinggung atau bertanya-tanya dengan sikap mereka. Seharusnya kita paham benar bahwasannya, dengan beranggapan seperti demikian, kita hanya akan meremehkan budaya dan suku orang lain. Saling toleransilah karena kita satu bangsa dan satu tanah air.
6)      Narasumber : atas nama Nurul Ramadhani. Ketika seseorang memiliki sikap etnosentrisme, itu adalah hal wajar. Tapi kita perlu mengambil sikap dan memberikan penghargaan kepada suku dan budaya lainnya sebagai bentuk toleransi, agar tak terjadi perpecahan antara satu kelompok dan kelompok lainnya.
7)      Narasumber : atas nama Rahman. Mengakui bahwa iapun memilki sikap etnosentrisme, dan meyakini setiap orang memilkinya. Tapi bila dia melihat suatu suku yang memilki budaya yang lebih baik dia mengakui di dalam hatinya saja tanpa memberikan penghargaan terus terang. Ini pun menurutnya dapat menghindarkan diri dari masalah atau perpecahan, karena terkadang bila kita memberikan pengakuan terhadap kelompok lain, justru kelompok kita sendiri yang memulai perpecahan.
8)      Narasumber : atas nama Nofrianto. etnosentrisme juga dapat menjadi hambatan komunikasi lintas budaya. Apabila seseorang masih memiliki pemikiran bahwa budayanya lebih unggul, ia akan cenderung untuk membatasi komunikasinya dengan individu/kelompok dari budaya asing yang bertentangan dengan budayanya. Hal inilah yang kerap kali menimbulkan pertikaian antar individu/kelompok yang berbeda budaya, karena yang satu merasa tidak dihargai oleh yang lain. Maka dari itu dibutuhkan empati dalam komunikasi budaya  untuk menghindari kesalahpahaman.
9)      Narasumber : atas nama Dina. Setiap orang berhak memilki sikap yang beranggapan bahwa suku dan budayanyalah yang terbaik, asalkan dia tak menjelek-jelkkan suatu suku dan budaya lainnya. Cara agar kita terhindar dari perpecahan ialah dengan memilki cara pandang yang terbuka.
10)   Narasumber : atas nama Satriani. Etnosentrisme dalam hal komunikasi dapat memberikan sesuatu yang positif. Misalkan dalam hal bahasa daerah, etnosentrisme dapat menjaga keutuhan bahasa tersebut agar dapat diwariskan turun-temurun dalam masyarakat, serta menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap tradisi daerahnya. Namun, etnosentrisme juga dapat menjadi hambatan dan memberikan efek yang negatif. Apabila etnosentrisme bersifat infleksibel, seseorang akan kesulitan untuk menilai perilaku orang lain berdasarkan latarbelakangnya karena ketidakmampuan untuk keluar dari perspektif yang dimilikinya. Kita bisa mencegah terjadinya perpecahan dengan cara berpikiran terbuka, menganggap perbedaan sebagai kekayaan, hindari sikap menghakimi, menjalin kerja sama yang baik, dan jangan langsung membuat asumsi dini.
 b. Dokumentasi





  
   

4. Analisis Data

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang terdiri dari berbagai suku, agama, ras dan golongan. Pluralitas masyarakat Indonesia ini tentu melahirkan berbagai persoalan. Setiap suku, agama, ras dan golongan berusaha untuk memperoleh kekuasaan dan menguasai yang lain.Pertarungan kepentingan inilah yang sering memunculkan persoalan-persoalan di daerah.

Cara mengatasi sikap Etnosentrisme   :
·         Memberikan Toleransi yang tinggi terhadap kebudayaan yang berbeda dengan  kebudayaan kita.
·         Menghargai suku,agama,dan ras yang berbeda.
·         Jika permasalahnnya karena miss communication bisa dengan mengadakan mediasi antar kepala suku atau kepala daerah.
·         Pemerintah harus lebih telaten dalam mengurusi masalah-masalah yang ada di sudut-sudut Negara, jangan hanya terpaku pada ibu kota saja.
·         Pemerintah harus lebih peka dan adil dalam pembuatan peraturan-peraturan agar tidak ada yang merasa di anak tirikan dan merasa tidak di perdulikan oleh pemerintah..
·         Perbaikan pada manajemen konflik agar mampu mengurangi konflik yang terjadi antara kelompok minoritas dengan minoritas maupun antara kelompok minoritas dengan mayoritas.

KESETARAAN GENDER DALAM DUNIA PENDIDIKAN (LINGKUNGAN KAMPUS UNISMUH MAKASSAR) OLEH DEVI SASMITA 10543001761...